
Siapkan santri untuk mengisi mimbar dan imam shalat tarwih, PP Yasrib Gelar Penataran Muballigh dan Imam Tarwih Jelang Ramadhan 1447 H
WATANSOPPENG – Pondok Pesantren Yasrib Watansoppeng mulai mematangkan persiapan menyambut bulan suci Ramadhan 1447 Hijriah/2026 Masehi. Salah satu langkah konkretnya adalah dengan menggelar Penataran Muballigh, Muballigha, dan Imam Tarawih yang berlangsung mulai tanggal 10 hingga 15 Februari 2026.
Program tahunan ini bertujuan untuk membekali para santri yang akan terjun langsung ke masyarakat sebagai delegasi dakwah pesantren.
Ada yang berbeda dalam persiapan tahun ini. Jika peserta reguler menerima materi selama enam hari, panitia memberlakukan karantina khusus selama 10 hari bagi para santri yang dinyatakan siap bertugas di masjid-masjid selama sebulan penuh (30 hari) di bulan Ramadhan. Selama masa karantina, para santri mendapatkan bimbingan intensif, pengawasan mutu materi dakwah, hingga pemantapan kelancaran hafalan Al-Qur’an.
Berbeda dari tahun-tahun sebelumnya yang hanya terfokus di masjid dan mushala, proses pembinaan kali ini juga dilaksanakan di Lantai 3 Gedung Annur. Dalam kegiatan ini, para santri mendapatkan bimbingan intensif dari para alumni Kairo (Mesir) yang merupakan bagian dari keluarga besar Pondok Pesantren Yasrib. Selain melibatkan pengajar internal, panitia juga mendatangkan narasumber ahli dari luar untuk memperkaya materi penataran.
Dalam sesi wawancara, Ust. Irwandi Hasanuddin, Lc menekankan bahwa esensi dari penataran ini jauh melampaui penguasaan materi di atas kertas.
”Kami berharap penataran ini bukan hanya sekadar pemberian materi, teks ceramah, atau pemahaman Al-Qur’an secara tekstual saja. Lebih dari itu, kami berharap santri bisa menjadi pribadi yang terdidik dengan akhlakul karimah, memiliki jiwa keikhlasan, dan mampu memberikan keteladanan—bukan hanya bagi dirinya sendiri, tetapi juga bagi masyarakat di sekitarnya,” ujar Irwandi selaku ketua Panitia dalam kegiatan ini.
Diharapkan, saat memasuki bulan Ramadhan nanti, para santri Yasrib tidak hanya tampil sebagai orator yang cakap, tetapi juga sebagai figur santri yang menyejukkan dan menjadi panutan di masjid tempat mereka bertugas.




