
Isra Mi’raj 1447 H: Dari Malas Menuju Ibadah, Dari Rebah Menuju Dakwah
Suasana khidmat menyelimuti Pondok Pesantren (PP) Yasrib saat ratusan santri berkumpul dalam rangka memperingati Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW. Acara yang diinisiasi oleh pengurus Organisasi Siswa Intra Madrasah (OSIM) ini mengusung tema yang sangat relevan dengan generasi muda saat ini: “Spirit 1447 H: Mengubah Malas Menjadi Ibadah, Mengubah Rebah Jadi Dakwah.”
Bertindak sebagai pembawa hikmah Isra Mi’raj, KM. Husaini, S.Pd.I, mengawali uraiannya dengan memaparkan kronologi perjalanan malam yang menakjubkan dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa hingga menembus Sidratul Muntaha. Beliau menekankan bahwa inti dari perjalanan tersebut adalah mandat besar berupa ibadah shalat lima waktu.
Dalam ceramahnya, beliau mengutip dalil Al-Qur’an Surah Al-Isra ayat 1:
”Subhaanal ladziii asraa bi’abdihii lailam minal Masjidil Haraami ilal Masjidil Aqsal ladzii baaraknaa hawlahuu linuriyahuu min aayaatinaa…”
(Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda kebesaran Kami…)
”Shalat adalah oleh-oleh langit yang paling berharga. Jika Nabi menjemput perintah shalat dengan perjuangan menembus langit, maka sangat tidak pantas jika kita yang tinggal melaksanakannya justru kalah oleh rasa malas” tegas KM. Husaini.
Lebih lanjut, KM. Husaini mengajak para santri untuk tidak sekadar melihat Isra Mi’raj sebagai peristiwa sejarah, namun pentingnya memetik hikmah dalam peristiwa tersebut,
Jika Rasulullah SAW melakukan perjalanan fisik dan spiritual menuju langit untuk bertemu Allah, maka shalat adalah sarana bagi umatnya untuk “bertemu” secara spiritual dengan Sang Pencipta. Shalat adalah komunikasi langsung antara hamba dan Tuhan tanpa pembatas.
Melalui peringatan ini, diharapkan santri PP Yasrib tidak hanya memahami sejarah Isra Mi’raj secara tekstual, tetapi mampu mengimplementasikannya dalam bentuk perubahan perilaku nyata: lebih rajin berjamaah, tekun menuntut ilmu, dan menjadi pelopor kebaikan di masyarakat.








