
Alumni Pesantren Yasrib, Yoga Saputra Sabet Juara 1 Esai Ilmiah Nasional
SOPPENG – Nama Yoga Saputra kini menjadi buah bibir yang membanggakan di kalangan santri, pengajar, dan rekan sejawatnya. Pemuda asal Desa Jampu, Kabupaten Soppeng, yang merupakan alumni Pondok Pesantren Yasrib ini baru saja menorehkan prestasi gemilang dengan meraih Juara 1 dalam Kompetisi Esai Ilmiah Nasional yang diselenggarakan oleh salah satu Fraksi Partai Politik di DPR RI.
Yoga, yang menempuh pendidikan Madrasah Aliyah di Pesantren Yasrib pada periode 2022–2024, bukanlah sosok asing dalam dunia organisasi. Selama masa “nyantri”, ia dipercaya menjabat sebagai Ketua OSIM Organisasi Santri Intra Madrasah. Kini, selain aktif sebagai mahasiswa di UIN Alauddin Makassar, ia juga mengemban amanah sebagai Ketua Ikatan Cendekia Muda Santri (ICMS).
Membawa nama almamaternya, UIN Alauddin Makassar, Yoga menyusun esai berjudul: “FROM THREAD TO BILL: TRANSFORMASI DISKURSUS DIGITAL ANAK MUDA MENJADI KEBIJAKAN PUBLIK MELALUI PARTAI GOLKAR”.
Dalam wawancara singkat melalui pesan daring, Yoga menjelaskan bahwa judul tersebut lahir dari upayanya menyatukan tiga elemen penting: peran anak muda, perkembangan teknologi, dan partai politik.
”Karena sub-temanya tentang parpol tersebut, anak muda, dan teknologi, judulnya saya rangkai agar ketiganya menyatu dalam satu pembahasan yang menarik,” ungkapnya.
Kompetisi yang berlangsung secara daring sejak 31 Januari hingga tahap presentasi 20 besar pada 11 Februari kemarin ini diikuti oleh peserta dari berbagai penjuru nusantara. Namun, gagasan Yoga dinilai paling unggul oleh dewan juri.
”Berdasarkan presentasi kemarin, juri menyebut karya saya adalah yang paling terstruktur dengan alur inovasi yang jelas. Meskipun peserta lain menawarkan aplikasi atau teknologi baru yang terlihat canggih, ide saya dianggap lebih realistis untuk langsung diimplementasikan menjadi saran kebijakan publik. Gaya penulisan yang ringan namun berisi juga menjadi nilai plus,” tambah Yoga.
Meski kini sudah tidak lagi mondok, Yoga tidak lupa pada akarnya di pesantren. Ia mengingatkan bahwa keberhasilan ini bukanlah hasil instan, melainkan buah dari kegagalan yang berulang kali ia rasakan.
”Semua bukan proses instan. Ada kegagalan puluhan kali dan semangat yang jatuh bangun. Tips saya untuk adik-adik santri: jangan ragu mencoba hal baru. Semua orang berawal dari kata ‘pemula’. Jika merasa sulit, yakinkan diri bahwa akan ada waktunya Anda berhasil,” pesannya penuh motivasi.
Prestasi Yoga Saputra menjadi bukti nyata bahwa latar belakang pendidikan pesantren mampu melahirkan intelektual muda yang kritis, solutif, dan mampu bersaing di kancah nasional.
